Analisis Prinsip Lex Certa dan Lex Stricta pada Pasal 252 Ayat (1) UU No. 1 Tahun 2023 tentang KUHP: Perbandingan dengan Hukum Arab Saudi

Authors

  • Indah Aurani Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
  • Syaddan Dintara Lubis Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

DOI:

https://doi.org/10.58819/jle.v4i2.267

Keywords:

Asas kepastian hukum, Pasal 252 ayat (1) KUHP, Santet, Sihir, Hukum Arab Saudi

Abstract

Pengaturan tindak pidana santet dalam Pasal 252 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana merupakan salah satu bentuk pembaruan hukum pidana yang bertujuan memberikan perlindungan terhadap masyarakat dari praktik penawaran jasa santet yang berpotensi menimbulkan keresahan sosial. Namun, rumusan beberapa unsur dalam pasal tersebut masih menimbulkan perdebatan mengenai pemenuhan asas kepastian hukum. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaturan tindak pidana santet dalam Pasal 252 KUHP, mengkaji penerapan asas kepastian hukum melalui prinsip lex scripta, lex certa, dan lex stricta, serta menganalisis relevansi pengaturan tindak pidana sihir dalam hukum Arab Saudi terhadap pengembangan hukum pidana Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan, pendekatan konseptual, dan pendekatan perbandingan. Bahan hukum diperoleh melalui studi kepustakaan dan dianalisis secara kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pasal 252 KUHP ayat (1) mengkriminalisasi perbuatan menawarkan atau memberikan jasa santet, bukan keberadaan kekuatan gaib itu sendiri. Dari perspektif asas kepastian hukum, Pasal 252 ayat (1) telah memenuhi prinsip lex scripta dan lex stricta, tetapi belum sepenuhnya memenuhi lex certa karena masih terdapat frasa yang berpotensi menimbulkan perbedaan penafsiran. Sementara itu, sistem hukum Kerajaan Arab Saudi mewujudkan kepastian hukum terhadap tindak pidana sihir melalui penerapan prinsip-prinsip syariah yang bersumber pada Al-Qur'an, Sunnah, dan Basic Law of Governance. Penelitian ini menyimpulkan bahwa relevansi hukum Kerajaan Arab Saudi bagi Indonesia tidak terletak pada adopsi sistem hukum syariahnya, melainkan pada pentingnya membangun konsistensi antara perumusan norma, mekanisme pembuktian, dan penegakan hukum. Oleh karena itu, penyempurnaan formulasi Pasal 252 KUHP ayat (1) diperlukan agar prinsip lex certa dan lex stricta dapat diwujudkan secara lebih optimal sehingga mampu memperkuat asas kepastian hukum dalam hukum pidana Indonesia.

References

Al-Bukhārī, A. ‘Abdillāh M. bin I. (1993). Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (M. D. Al-Bugā (ed.)). Dār Ibnu Kaṡīr.

Arief, B. N. (2020). Kebijakan Hukum Pidana: Perkembangan Penyusunan Konsep KUHP Baru. Kencana.

Audah, A. Q. (1989). Al-Tasyrī Al-Jinā’ī Al-Islāmī Muqāranan Bil Al-Qānūn Al-Waḍ’ī. Kharisma Ilmu.

Basic Law of Governance, Royal Order No. A/90 Tahun 1412 H, Pasal 1 Dan Pasal 7. (1992).

Farisy, F. D. Al, & Sudrajat, A. (2024). PUSARAN PERISTIWA PEMBANTAIAN DUKUN SANTET BANYUWANGI 1998. Karmawibangga: Historical Studies Journal, 6(1), 61–86. https://doi.org/10.31316/karmawibhangga.v7i01.7318

Hadjon, P. M. (2025). Pengantar Ilmu Hukum. In Buku Aris Prio Agus Santoso (p. 150). Pustaka Baru Press.

Harahap, M. M., & Anwar, R. (2022). Permasalahan Yuridis Penentuan Pelaku Utama Dalam Pemberian Justice Collaborator Sebuah Tindak Pidana Tertentu. PROGRESIF : Jurnal Hukum XVI/No., XVI(1), 1–12. https://doi.org/https://doi.org/10.33019/progresif.v16i1 .2943

Hiariej, E. O. . (2017). Teori dan Hukum Pembuktian. Erlangga.

Indonesia, D. A. R. (2018). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.

Koentjaraningrat. (2015). Pengantar Ilmu Antropologi, Edisi Revisi. Rineka Cipta.

Kusairi, L., Puguh, D. R., & Rocwulaningsih, Y. (2025). Shamans , Violence , and the Reconstruction of Memory Violence Surrounding Witchcraft Accusations in Banyuwangi, 1998 – 1999. Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies, 11(2), 186–202. https://doi.org/10.30983/islam

Lutfi, A., Bima, M. R., & Arief, M. (2026). Mengadili yang Tak Kasatmata : Dilema Pembuktian Tindak Pidana Santet dalam KUHP Nasional. Jurnal Dialogica, I(2), 1–17.

Marzuki, P. M. (2022). Penelitian Hukum (Revisi). Kencana Prenada Media Grup.

Moeljatno. (2022). Asas-Asas Hukum Pidana. Renika Cipta.

Puspitasari, D., & Arzaqi, N. (2025). Analisis Pasal 252 KUHP Baru Perspektif Hukum Islam dalam Pengembangan Teori Hukum. Tasyri’ Journal of Islamic Law, 4(1), 179–200. https://doi.org/https://doi.org/10.53038/tsyr.v4i1.150

Qudamah, I. (2000). Al-Mughni’. Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.

Radbruch, G. (1950). Legal Philosophy, diterjemahkan oleh Kurt Wilk dan Stanley L. Paulson, dalam The Legal Philosophies of Lask, Radbruch, and Dabin. Harvard University Press.

Radzakani, N. S., & Apriyani, M. N. (2026). SANTET DALAM KUHP BARU: ANALISIS KRIMINALISASI TERHADAP PELAKU YANG MENYATAKAN DIRINYA MEMPUNYAI KEKUATAN GAIB PADA PASAL 252 UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2023. Jurnal Ilmiah “Advokasi, 14(022), 469–478. https://doi.org/https://doi.org/10.36987/jiad.v14i2.8341

Rahayu, D. P., Darmawan, A., Irfani, M., Muttaqin, A., Studi, P., Hukum, M., Hukum, F., & Belitung, U. B. (2023). Pemaknaan Kebijakan Kriminal Perbuatan Santet dalam RUU KUHP. Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia, 5(1), 220-232 Program. https://doi.org/https://doi.org/10.14710/jphi.v5i1.220-232

Remmelink, J. (2003). Hukum Pidana: Komentar atas Pasal-Pasal Terpenting dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Belanda dan Padanannya dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia, diterjemahkan oleh Tristam P. Moeliono. Gramedia Pustaka Utama.

Rifai, A. (2018). Penemuan Hukum Oleh Hakim Dalam Perspektif Hukum Progresif (2nd ed.). Sinar Grafika.

Santoso, H. A., Sutomo, Miarsa, F. R. D., & Zamroni., M. (2023). KONTROVERSI ASAS PEMBUKTIAN PASAL 252 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA BARU MENYATAKAN DIRINYA BERKEKUATAN GHAIB. ANAYASA (Journal of Legal Studies), 1(1), 77–89. https://doi.org/https://doi.org/10.61397/ays.v1i1.241

Setyawan, V. P., & Widiartana, G. (2023). Criminalization Of Santet In The Reform Of The Criminal Law. RES JUDICATA, 1(1), 43–50. https://doi.org/https://doi.org/10.29406/rj.v6i1.5330

Shidarta, S. (2016). Asas “Legalitas.” ResearchGate. https://doi.org/10.13140/RG.2.2.15209. 62560

Sudarto. (2017). Kriminologi: Pengetahuan Tentang Sebab – Sebab Kejahatan. Poltea.

Sukiati. (2016). Metodologi Penelitian Sebuah Pengantar. Manhaji.

Turnip, I. R. S., Sukiati, & Irwan. (2021). Urgensi Penerapan Teori Hukum Dalam Penulisan Skripsi Mahasiswa Fakultas Syari’ah dan Hukum. UIN Sumatera Utara.

Vogel, F. E. (2000). Islamic Law and Legal System: Studies of Saudi Arabia. Brill.

Zuhaili, W. (2011). al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. Dar Al-Fikr.

Downloads

Published

18-08-2026

How to Cite

Aurani, I., & Syaddan Dintara Lubis. (2026). Analisis Prinsip Lex Certa dan Lex Stricta pada Pasal 252 Ayat (1) UU No. 1 Tahun 2023 tentang KUHP: Perbandingan dengan Hukum Arab Saudi. Jurnal Legalitas, 4(2), 81–96. https://doi.org/10.58819/jle.v4i2.267

Issue

Section

Artikel

Similar Articles

<< < 1 2 3 4 5 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.